(1/2) Mahasiswa Kembali: Marhaenisme Sebagai Paradigma Perjuangan Pemuda

presiden_sukarno

Marhaenisme merupakan marxisme yang disaring oleh kultur bangsa Indonesia. Ketika Soekarno mencermati marxisme, beliau menemukan dua point penting yang terkandung pada marxisme. Yaitu filsafat matrealisme dan historis matrealisme. Menurutnya, filsafat matrealisme yang atheis tidak sejalan dengan kultur bangsa Indonesia. Akhirnya beliau menggunakan historis matrealisme sebagai metode berpikir untuk menganalisa dinamika sosial bangsa pada saat itu.


Latar Belakang Lahirnya Marhaenisme

Marhaenisme, Kata Marhaen berasal dari seorang petani yang bernama Pak Marhaen/Mang Aen yang ditemui Soekarno di Bandung –Sekitar tahun 1926. Dia adalah seorang petani kecil yang memiliki alat produksi (lahan peranian, cangkul dan lain-lain), bekerja dengan seluruh waktunya. Namun hanya cukup menghidupi keluarganya yang sederhana dan tetap menderita karena hidup dalam sistem yang menindasnya. Menemukan kondisi yang dialami Pak Marhaen, akhirnya Soekarno merasakan ada hal yang mengganjal menjadikannya berpikir-pikir. Dialektika pemikiran Soekarno tentang perjuangan secara revolusioner mulai tumbuh. Bagi Soekarno, Pak Marhaen adalah simbol lapisan masyarakat yang menginkan adanya perubahan menuju kesejahteraan dan berkeadilan sosial.

Istilah Marhaen (pengganti istilah proletar: lapisan sosial yang paling rendah) untuk pertama kalinya digunakan oleh Soekarno di dalam pleido –pidato pembelaan- tahun 1930, Indonesia Menggugat.

Juga, Marhaenisme dijabarkan oleh Soekarno dapat dilihat pada hasil keputusan Konferensi Partindo, Mataram, Yogyakarta pada tahun 1933:

  1. Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
  2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
  3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub didalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termaktub didalamnya.
  4. Karena Partindo berkeyakinan bahwa didalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
  5. Di dalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
  6. Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.
  7. Marhaenisme adalah pula Cara Perjuangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjoangan yang Revolusioner.
  8. Jadi Marhaenisme adalah cara Perjoangan dan Azas yang ditujukan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
  9. Marhaenisme adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.

 

Konsep Marhaenisme

Marhaenisme adalah ideologi yang bertujuan untuk menghilangkan penindasan, penghisapan, pemerasan, penganiayaan dan berupaya mencapai serta mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, melalui kemerdekaan nasional, melalui demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Ideologi Marhaenisme secara garis besar berisi tiga prinsip utama. Yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sosio-Nasionalisme adalah nasionalisme yang berperi kemanusiaan, nasionalisme yang bergetar hatinya untuk membela terhadap kaum yang tertindas. Sosio-Nasionalisme bertujuan untuk memperbaiki keadaan di dalam masyarakat sehingga tidak ada kaum yang tertindas, tidak ada kaum yang celaka, dan tidak ada kaum yang sengsara.

Sosio-Demokrasi bertujuan mencari keberesan politik dan ekonomi; keberesan negeri dan rezeki; dan tidak hanya mengabdi kepada kepentingan sesuatu yang kecil melainkan kepada kepentingan masyarakat.

Azaz Perjuangan Marhaenisme

Radikal-Revolusioner, cara perjuangan untuk melakukan perubahan secara mendasar dan cepat. Radikal-revolusioner tidak ada hubungannya dengan kekerasan, bukan pula amuk-amukan brutal. Tetapi cara perjuangan yang konsisten terhadap cita-cita dan sesuai koridor.

Non-Kooperasi, perjuangan dengan tidak melalui jalur kompromi, bukan perjuangan meminta-minta belas kasih.

Machtsvorming, perhimpuan kekuatan yang dilandasi satu kesatuan semangat dan cita-cita, satu penyusunan kekuatan berdasarkan mental ideologi, dan merupakan sumber dalam menggunakan kekuatan.

Massa Aksi, suatu massa aksi yang didasari pada kesadaran bersama atas tujuan perjuangan. Massa aksi bukanlah gerakan yang harus dengan jumlah besar, tetapi setiap tindakan yang dapat melahirkan kesadaran rakyat untuk menimbulkan gerakan yang radikal-revoulisoner.

Self Help, suatu gerakan yang tidak bergantung kepada kekuatan sesuatu pihak melainkan harus berdasarkan kekuatan sendiri. Dengan menggantungkan diri kepada pihak lain maka dapat membuka peluang terhadap pihak lawan untuk membelokkan gerakan dengan niat buruk.

Self Reliance, dengan dasar self help, suatu gerakan akan memiliki kepercayaan diri (self reliance).


Sumber:

Tulus Chandra Putra Simanungkalit. 2008. Marhaenisme Ajaran Bung Karno. http://chandrapoetrasangfajar.blogspot.co.id/2008/12/marhaenisme-ajaran-bung-karno_16.html, 25 Desember 2016.

Anonim. Marhaenisme. https://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenisme, 25 Desember 2016.

Kusno. 2012. Bung Karno dan Pentingnya Teori Perjuangan. http://www.berdikarionline.com/bung-karno-dan-pentingnya-teori-perjuangan/, 25 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s